|
|
Judul buku: Bisnis Orang
Sakit
Penulis:
Dedi Supratman dan Eko Prasetyo
Penerbit:
Resist Book
Tebal:
164 halaman, i-xi, 14x21 cm
Cetakan
pertama Maret 2010
Harga:
IDR 40.000.00,-
“..... biasanya rumah sakit punya
prosedur tetap: identitas untuk menjamin. Tak bisa rumah dengan longgar
membiarkan orang miskin sakit, lalu dirawat, lalu diobati dan kemudian
dibiarkan pulang. Orang miskin sakit pantas untuk dicurigai. Bukan curiga apa
penyakitnya melainkan bagaimana mereka akan membayar pengobatannya. Ongkos
untuk mengobati pasien miskin musti dianalisis dengan detail, rinci dan
dipastikan mereka mampu membayar. Untuk urusan pendaftaran saja orang miskin
punya lorong loket sendiri. Entah itu namanya jaminan kesehatan yang miskin
atau asuransi kesehatan. Dan sialnya lorong itu pasti punya budaya yang sama:
lama, berbelit-belit dan makan kesabaran. Tapi orang miskin tak boleh mengeluh.
Kesehatan memang berbiaya mahal. Ongkos untuk menjadi dokter sudah mahal dan
begitu juga ongkos untuk melahirkan satu perawat. Maka tak ada orang miskin
yang merasa damai di rumah sakit. Jjika tak percaya saksikan bagaimana paras
orang-orang di kelas ekonomi: cemas, sumpek dan khawatir. Antara kesembuhan dan
biaya semuanya tumpang tindih.”
Dedi dan Eko hadir lagi dengan bahasa
yang ‘pedas’. Setelah buku Orang Miskin Dilarang Sakit, kini hadir buku yang
(masih) mengkritisi pemerintah dalam kebijakan kesehatan yang memberatkan
rakyat miskin. Buku ini menghadirkan fakta-fakta buram kebijakan anggaran
kesehatan di Indonesia, analisis formulasi kebijakan anggaran kesehatan, dan di
akhir buku ini juga dibahas stategi peningkatan anggaran kesehatan. Bagi Kuba, kesehatan berbasih atas pemuliaan martabat, kesehatan adalah kehormatan dan harga diri bangsa. Miris! di Indonesia, kesehatan adalah ladang bisnis dan orang sakit sebagai komoditasnya.
Buku ini menceritakan bobroknya pemerintah dalam mengurus kesehatan rakyat. rakyat yang konon katanya menggenggam kedaulatan bangsa. rakyat miskin yang harusnya menjadi tanggungan bangsa untuk keberlangsungan hidupnya. semua menjadi semakin mengiris hati bahwa kenyataannya kepedihan hidup rakyat miskin akibat permasalahan kesehatan yang dialaminya dijadikan sebuah ladang mengeruk penghasilan.
Buku ini adalah buku yang padat data, menampilkan banyak sekali data, mulai dari fakta di pemerintahan hingga sebuah penelitian mengenai kepuasan pelayanan kesehatan yang penulis lakukan sendiri. hanya saja bahasanya yang sangat lugas dan cenderung profokatif membuat buku ini pasti menimbulkan meningkatnya tekkanan darah pembaca yang aktif di beberapa bidang kesehatan.
Buku ini menceritakan bobroknya pemerintah dalam mengurus kesehatan rakyat. rakyat yang konon katanya menggenggam kedaulatan bangsa. rakyat miskin yang harusnya menjadi tanggungan bangsa untuk keberlangsungan hidupnya. semua menjadi semakin mengiris hati bahwa kenyataannya kepedihan hidup rakyat miskin akibat permasalahan kesehatan yang dialaminya dijadikan sebuah ladang mengeruk penghasilan.
Buku ini adalah buku yang padat data, menampilkan banyak sekali data, mulai dari fakta di pemerintahan hingga sebuah penelitian mengenai kepuasan pelayanan kesehatan yang penulis lakukan sendiri. hanya saja bahasanya yang sangat lugas dan cenderung profokatif membuat buku ini pasti menimbulkan meningkatnya tekkanan darah pembaca yang aktif di beberapa bidang kesehatan.
Dengan mengetahui sejarah kesehatan
indonesia yang terdapat dalam buku ini, diharapkan para pembaca mampu
mengkritisi pemerintah dalam kebijakan kesehatan. Menjadi masyarakat yang aktif
membela haknya, tidak menjadi rakyat yang dicucuk hidungnya seperti kerbau. Negara Kuba, yang menjadi lampiran buku ini, unggul dalam
kesehatan.
Fayruz Asy Syaathirii

0 tanggapan:
Poskan Komentar
tulis komentar